Mengapa Manusia Sakit, Tua dan Mati

Benar suatu saat kita akan mati. Akan tetapi, “Mengapa ada yang mati pada usia 100 tahun tetapi ada yang mati muda?” Pada postingan kali ini, myfamilisehat akan berusaha menjawab pertanyaan, Mengapa Manusia Sakit, Tua dan Mati seperti yang tertera pada judul tulisan ini. 

Bukan Takdir Manusia Sakit, Tua & Mati 

Jangan mempersalahkan Tuhan kalau ada orang berusia muda sakit-sakitan akhirnya meninggal. Sesungguhnya Tuhan sudah memberi kehendak bebas dan rasionalitas agar manusia menata hidupnya sendiri.

Menjadi tua dan mati itu pasti. Tetapi soal sakit dan mati pada usia muda sangat terkait dengan kemampuan untuk menata hidup serta faktor-faktor eksternal lainnya. Orang yang meninggal pada usia 90, 100 bahkan  120 tahun adalah mereka yang memiliki gaya hidup sehat.

Yang membawa mereka sampai pada kehidupan penuh kualitas di usia tua bukan takdir tetapi gaya hidup dan pola perilaku sehat.

Mereka memilih jenis makanan sehat selama bertahun-tahun. Menjauhi makanan dan minuman yang enak di lidah tetapi menyiksa organ sekresi. Selain itu, juga rutin beraktivitas fisik sehingga lemak minggat dari otot-otot. Bahkan mereka mengambil istirahat yang cukup untuk memberi istirahat pada organ-organ penting dan memulihkan kondisi yang lemah.

Gaya Hidup Enak Meningkatkan Radikal Bebas

Menjadi tua itu proses. Salah satu teori yang berupaya menjelaskan proses itu adalah teori Radikal Bebas.

Cara paling mudah memahami teori ini adalah melihat karat yang mengikis baja. Baja, seperti benda lain juga manusia, tersusun dari molekul. Molekul  itu tersusun dari atom-atom. Setiap atom terdiri dari inti yang disebut nukleus. Di sekitar nukleus ada elektron yang berputar menurut orbit tertentu, seperti planet mengelilingi matahari.

Tokoh jahat dalam teori Radikal Bebas adalah Molekul Oksigen. Agar stabil, molekul oksigen harus memiliki 2 elektron. Jika memiliki 1 atau 3, ia menjadi sangat tidak stabil. Kalau hanya memiliki 1 elektron, ia akan mati-matian mencari pasangan untuk elektronnya. Akan tetapi kalau memiliki 3 elektron, ia akan gila-gilaan mencari tempat untuk  1 elektron yang berlebih itu.

Jadi, molekul oksigen yang tidak stabil itu menciptakan masalah;  sangat reaktif dan bisa berkombinasi dengan molekul yang stabil. Akibatnya, dia akan stabil tetapi mitranya menjadi tidak stabil bahkan rusak.

Kondisi inilah yang menyebabkan perkaratan pada baja. Sedangkan pada tubuh manusia, proses perkaratan ini disebut Proses Penuaan.

Dalam tubuh manusia, radikal bebas merupakan produk sampingan alami proses pencernaan, pernapasan dan pemakaian energi.  Mayoritas radikal bebas itu tidak berbahaya selama organ-organ tubuh berproses secara benar. Tetapi jika ada masalah, radikal bebas itu dapat merusak dinding sel, menyerang kromosom dan DNA, menciptakan kanker dan membunuh sel-sel tubuh.

Mereka juga menyerang protein di lensa mata yang menyebabkan kekaburan dan menimbulkan katarak. Radikal bebas juga dapat mengoksidasi kolestrol jahat di dalam arteri sehingga menjadi plak yang menempel di dinding pembuluh darah sehingga bisa menghentikan aliran darah. Akibatnya terjadi stroke atau serangan jantung.

Antioksidan: Antikarat Tubuh Manusia 

Jika proses korosi pada mobil bisa dihentikan dengan produk antikarat, demikianpun tubuh kita bisa dilindungi dengan zat antikarat berupa pemangsa radikal bebas, yaitu  Antioksidan.

Mengapa Manusia Sakit, Tua dan Mati

“Malaikat pelindung” ini bekerja dengan 2 cara. Pertama, menangkap tokoh jahat ( molekul oksigen yang memiliki 1 atau 3 elektron ) sebelum menciptakan kekacauan dan menyebarkan teror. Kedua, memperbaiki kerusakan yang terjadi akibat ulah tokoh jahat itu. 

Penting untuk diingat! Tanpa antioksidan tubuh manusia tidak dapat bertahan lebih dari 5 menit, seperti bumi tidak akan bertahan dari serangan benda-benda langit bila tidak ada afmosfir. 

Tokoh baik ini kita temukan dalam makanan kita. Sebagian makanan benar-benar penuh antioksidan. Makanan lain mengandung unsur penting yang memungkinkan tubuh bisa membuat antioksidannya sendiri. 

Maka benar kata-kata  bijak berikut:


“Let food be thy medicine and medicine be thy food.”
Biarkan makanan menjadi obat dan obatmu menjadi makananmu. 


Hippocrates – filsuf Yunani

Sumber: Kusuma, Wijaya (2000), Rahasia untuk Melawan Proses Penuaan. Jakarta, Interaksara

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: