Tentang Saya

Saya bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang guru sederhana yang saat ini mengajar di sebuah SMA swasta di Jakarta.

Nama saya Felix Tena Longa. Karena Guru, saya selalu memperkenalkan diri dengan sebutan Pak Guru Felix. Dan para siswa memanggil saya dengan nama itu.

Saya lahir 6 Agustus 1966, di sebuah kampung kecil, di sebuah pulau yang indah di Indonesia Timur. Masa pendidikan dasar dan menengah saya habiskan di Doka – Ngada – Flores, tempat asal saya. Setelah menamatkan SMA, saya hijrah ke Jakarta dan kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat ( STF ) Driyarkara, Cempaka Putih – Jakarta Pusat.

Setelah tamat kuliah, saya tidak pulang kampung, sebuah tempat penuh kenangan dan selalu dirindukan, tetapi mengadu nasib di Jakarta. Walaupun rindu, pulang kampung tidak bisa saya lakoni secara pasti mengingat berbagai keterbatasan.

Setelah kuliah sempat bekerja serabutan menjadi Dosen MKU Character Building di sebuah perguruan tinggi swasta di daerah Jakarta Barat. Sambil bekerja pula di biro perjalanan ziarah-wisata di daerah Kwitang – Jakarta Pusat. Namun, saat bertemu dengan calon belahan jiwa yang sekarang menjadi isteri, dia mengajukan sebuah syarat bila saya menikahi dia. 

Saya diharuskan berhenti bekerja di biro perjalanan. Cukup fokus mengajar saja agar tidak selalu meninggalkan rumah saat membawa tour wisata, entah ke dalam ataupun ke luar negeri.

Saya diharuskan berhenti bekerja di biro perjalanan. Cukup fokus mengajar saja agar tidak selalu meninggalkan rumah saat membawa tour wisata, entah ke dalam ataupun ke luar negeri.

Saat ini, bersama isteri dan dua anak saya, kami tinggal di Bekasi. Setiap hari kerja pulang pergi Kebon Jeruk – Bekasi dengan jarak 80 km memang sangat melelahkan. Tapi itu harus dijalani, karena setiap orang punya bebannya masing-masing. 

Mengalami Kecelakaan

Tanggal 19 September 2016 adalah hari terkelam dalam hidup saya. Pagi-pagi buta, saya ditabrak secara brutal oleh segerombolan pemabuk dengan mobil taruna.

Tulang-tulang saya patah dan saya tidak bisa berdiri apalagi berjalan. Saya dilarikan ke Rumah Sakit dan akhirnya dibawa ke RS. Carolus Jakarta. Operasi pertama memakan waktu 12 jam dan saya harus nginap di ICU selama 3 hari.

Karena terlalu bersemangat untuk sembuh, saya memaksakan diri untuk berklatih jalan sehingga pen-pen penyambung tulang saya terlepas. Akibatnya, saya harus operasi kedua yang memakan waktu 7 jam.

Pengalaman operasi kedua membuat saya tahan diri dan harus terus menerus tidur di tempat tidur selama 10 bulan. Hidup saya bergantung sepenuhnya pada isteri dan anak-anak saya. Saya benar-benar tak berdaya dan tidak bisa melakukan apa-apa tanpa bantuan orang lain.

Derita saya bahkan semakin bertambah. Biaya operasi saya menghabiskan Rp. 100.000.000,- ( seratus juta ) lebih. Penabrak sama sekali tidak mempertanggungjawabkan perbuatannya. Bahkan hingga kini dia  bebas karena tidak ada yang terus mendorong laporan kecelakaan saya di pihak berwajib saat isteri fokus mengurusi saya yang tidak berdaya.

 

Kontradiksi Sakit dan Sehat

Berbaring tak berdaya dengan kondisi tubuh yang sakit adalah pengalaman yang menyakitkan sekali. Saat fisik tidak bisa melakukan apa-apa, sementara pikiran masih bebas berkeliaran ke mana-mana itu sangat menyiksa.

Benar-benar menyiksa kalau kita tidak mampu berdamai dengan keadaan. Itulah yang saya rasakan semula. Namun, ada moment di mana saya menerima keadaan saya yang baru dan berserah kepada Sang Pemberi kehidupan.

Keadaan itulah yang mengubah paradigma saya. Saya akhirnya mampu menemukan makna positif di atas reruntuhan kecelakaan saya. Saya menjadi lebih bisa bersyukur dan tidak melampiaskan kemarahan saya kepada orang-orang yang terdekat dengan saya, bahkan pada orang yang menabrak saya. 

Alam ini intelegible. Penabrak saya akan menapaki jalan hidupnya sendiri. Saya tidak punya hak untuk menghakimi dan menghukum dia. 

Tatkala melihat orang lain bebas bergerak. Saya punya kemauan untuk bebas bergerak pula, tetapi apa daya tak kesampaian. Pada saat seperti itulah, kesadaran akan nilai kesehatan mencuat kuat.

Sakit dan sehat adalah pengalaman yang kontradiktif. Anda bisa melakukan apa saja ketika sehat. Sementara, ketika sakit Anda tidak bisa melakukan itu. Sehat membuat orang bebas bergerak. Sebaliknya, sakit membatasi gerakan Anda.

Karir Anda akan bergerak maju ketika sehat. Saat sakit, karir Anda mentok, bahkan mungkin digantikan orang lain. Sehat adalah kesempatan Anda mengumpulkan uang. Sedangkan sakit justru menguras sebagian besar, bahkan mungkin seluruh kekayaan Anda.

Dalam kasus kecelakaan ini, saya mengalami tiga ( 3 ) kerugian: menjadi cacat, tidak mengajar selama 10 bulan dan tiba-tiba punya utang yang sangat besar, yaitu Rp. 100.000.000,- ( seratus juta rupiah ) lebih tanpa kompensasi dari penabrak.

 

Jadi Blogger

Sakit adalah momentum bagi saya untuk memikirkan ulang apa yang harus saya lakukan setelah sembuh nanti, selain melanjutkan profesi sebagai Guru SMA.

Menyadari bahwa kesehatan itu penting ditambah kemampuan saya suka menulis, akhirnya saya memilih untuk menjadi seorang blogger kesehatan selain menjadi guru.

Ada beberapa alasan mengapa memilih menjadi blogger. Pertama: Jadi blogger tidak perlu banyak gerakan secara fisik. Ini gue banget karena saya sudah cacat sehingga harus membatasi gerakan fisik. Kedua: Jadi blogger itu harus punya passion. Ini juga gue banget karena memang saya suka menulis. Ketiga: Lewat blogger saya bisa menyampaikan pesan tentang pentingnya kesehatan.

Ketika di rumah sakit, saya sharing kamar dengan beberapa orang. Hanya saya yang diopname dengan kasus kecelakaan. Yang lain, umumnya opname dengan kasus terkena penyakit degeneratif, di antaranya menderita jantung coroner dan stroke.

Pengalaman perjumpaan dan kebersamaan dengan orang-orang yang di-opname itu menyadarkan saya bahwa kesehatan itu nilai yang tak terkira. Kesehatan adalah suatu nilai  investasi.

Kondisi Anda saat ini ( terutama orang yang sudah berusia di atas 50 tahun ) sangat ditentukan oleh gaya hidup Anda di masa muda.

Blogger ini saya beri nama myfamilisehat.com bukan tanpa alasan. Karena kesehatan itu penting, maka blog ini berupaya mengedukasi para pembaca untuk melindungi kesehatan seluruh anggota keluarganya lewat gaya hidup yang sehat.

Sebtulnya sudah banyak blog kesehatan yang eksis di dunia maya. Terjun menjadi blogger tanpa pengetahuan memadai tentang dunia web dan hanya mengandalkan hobi menulis ibarat seorang penambang kecil tanpa alat mengais-ngais emas di tengah penambang besar dengan segala propertinya.

Namun, demikian, saya berkeyakinan ada saja butiran-butiran emas yang terlewatkan dan bisa saya ambil. Yang penting terus belajar, terus menghasilkan artikel-artikel yang berguna, pasti ada rejeki dari sana. 

Terima kasih sudah mampir di blog saya dan mau membaca tulisan-tulisan saya. Salam hormat selalu dari saya – Pak Guru Felix. 

 

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: